27/04/2021

Daw of Mankind: Tolong geser bidak(ku)!

Dawn of Mankind adalah salah satu rilisan dari Tasty Minstrel Games di masa SPIEL Essen 2019. Game ringan ini membawa mekanik worker-placement dengan beberapa kilikan ala Marco Pranzo sebagai desainernya, berikut dengan Kwanchai Moirya di seksi artistik. Ketika saya memegangnya, game ini memberikan sensasi lewat visualnya yang mengagumkan, dan terlihat cukup kompleks. Yang paling penting, kesemuanya dibungkus di dalam boks yang lebih kecil dari yang saya antisipasi. Coba kita cek bersama, game seperti apa yang ditawarkan Dawn of Mankind.

IKHTISAR DAWN OF MANKIND

Dalam permainan Dawn of Mankind, para pemain memimpin suku prasejarah untuk menggapai kejayaan. Pemain yang berhasil mendapatkan poin terbanyak di akhir permainan akan menjadi kepala suku terbaik dan memiliki hak untuk menyombongkannya ke kepala suku lain.

Ketika saya mendapatkan gambaran temanya, hal pertama yang muncul adalah Power Grid: First Park, sebuah game lama milik saya yang patut diingat dari Friedemann Friese. Sedikit melenceng dari topik, tapi saya sendiri bukan penggemar game dengan proses card-bidding, tapi secara garis besar, game ini cukup menarik. Terlepas dari itu semua, Dawn of Mankind cukup berbeda dari mekanik dan alur permainannya. Di dalam game ini, kalian akan menugaskan tiap anggota suku (sebagai worker) di jalan hidup spesifik hingga mereka mati. Cukup menarik, bukan? Langkah progresif tiap worker benar-benar masuk dengan temanya. Hal ini membuat personifikasi hidup tiap kawan satu klanmu digambarkan dalam satu cerita pendek yang mengalir.

THE GAME COMPONENTS

For a game in a small box, Dawn of Mankind brings lots of bits. This is what I like from the small boxes. They are packed with an abundant amount of stuff, they don’t just bring air within. 

Back to this game, when unboxing, small tribesmen in the form of meeples came out of the box. Okay, it could have been bigger, guys. Please make a nicer one, and you are actually good to go! The shape was amusing, too. At first, people could have difficulty recognizing them. I tell you now before hands: they are some prehistoric men holding a stone/wooden club. For me, they were too small, and making them stand on their feet was not an easy feat. Regardless, it’s an unusual shape that guarantees someone in your group commenting about it.

The resource meeples were also a tad too small! Players need to place them on their boards (actually their player sheets), keeping track of their resources, which include Fruit, Fish, Hide, and Spear. I could understand, definitely, that they produced them in small sizes to keep the cost low and to fit them in the tiny box. They were just too small for my big fingers. In the end, I could still find enough space for bigger components. 

Dawn of Mankind also comes with a small quad-fold board, several action tiles, some cards, and cubes. The board looks dandy, I love the colour contrast and how they change from one side to another.

DAWN OF MANKIND’S THEME

Although I already mentioned the theme previously, I feel the need to elaborate more on it. Despite having worker placement using the tribesmen, Dawn of Mankind also wants to capture each life story from childhood to their elderly age. The latter represents their journey to the afterlife with a hint of reincarnation by becoming a new tribesman in the end. In this cycle, players utilize their paths to use the available actions on the game board, which I found remarkable for a simple yet unusual mechanic. The game board is divided into four different eras, defining the life progress from childhood, teen, adult, and elderly.

TAMPILAN LUAR DAWN OF MANKIND

Jika kamu sudah akrab dengan gaya gambaran Kwanchai Moriya, kamu pasti langsung bisa mengenali ilustrasinya lewat boks depan game ini. Singkatnya, hasil karya beliau sudah bisa membuat saya berkata "WOW!" waktu melihat Dawn of Mankind buat pertama kalinya. Vektor dua dimensinya yang berwarna dipadu dengan gaya tiga dimensi yang membuat semua gambarnya lebih menonjol. Sayang sekali ilustrasi Kwanchai hanya menyampul bagian papan dan boksnya saja. Kartu-kartunya hanya disentuh sedikit dengan gambar-gambar dan lebih banyak dipenuhi simbol. Terakhir untuk seksi ini, saya juga ingin memuji Katie Welch untuk desain grafisnya. Saya sangat menyukai kesederhanaan di ikon-ikonnya yang bersih.

Cara bermainnya bisa dibaca di entri original di blog saya!

OPINI SAYA UNTUK GAME INI

Baiklah, Dawn of Mankind berdasarkan preferensi saya untuk beberapa euro game, bisa dibilang cukup berisi walaupun berukuran kecil. Kotaknya juga portable dan mudah dibawa ke mana-mana. Game-nya sederhana dan mudah untuk diajarkan ke pemain casual dan pemain baru.

Walaupun permainannya mengimplementasi mekanik worker placement yang sudah sering ditemukan di mana-mana, Dawn of Mankind masih memiliki pelintiran di dalamnya yang masih segar buat orang-orang, dan pastinya membuat permainan menarik. Hal ini ditonjolkan lewat sistem dorongan ke para pekerja yang ada, satu lapisan yang harus dipikirkan ketika sedang merencanakan langkah-langkah ke depan. Mekanik tersebut 'menghukum' pemain buat selalu mengira-ngira aksi apa yang direncanakan pemain lainnya. Nasib pekerja non-aktif kalian yang ada di atas action tile bergantung pada pekerja dari pemain lain. Mereka akan mendorong pekerjamu ini ke area lain yang siap digunakan. Perlu diingat, kita tidak bisa mendorong meeple pekerja milik sendiri. Dengan demikian, kita tidak bisa bergerak seorang diri dan harus selalu mencari celah buat mendapatkan posisi yang menguntungkan.

Apa yang harus dipelajari dari game pertama

Game pertama saya masih kikuk karena sempat melakukan kesalahan krusial karena mekanik dorong mendorong ini. Setelah satu game, saya baru sadar kalau aksi para pemain betul-betul sudah dibatasi ke alur-alur yang diberikan ke para pekerjanya ini. Konsep ini membentuk sebuah engine-building yang unik tapi nyaris tak kasat mata, yang jauh lebih linear dibanding game worker placement yang lebih konservatif. Setelah kalian menentukan nasib dari seorang pekerja, aksi-aksi miliknya sudah ditentukan dari awal dan dikerucutkan ke aksi-aksi lain yang diambil setelahnya.

Dawn of Mankind terasa seperti sebuah perlombaan. Siapapun yang mencapai 60 poin di akhir gilirannya akan mengakhiri permainan. Alhasil game-nya jadi lebih ke arah siapa yang paling cepat mengumpulkan poin secukupnya bakal menang. Mengakhiri game secara tiba-tiba sebetulnya tidak terlalu memberikan ganjaran yang sepadan, saya rasa. Masih ada skor yang dicetak di akhir permainan, makanya game ini tidak betul-betul membuatmu berlomba untuk mengumpulkan poin tercepat sebetulnya.

Aspek visual dan kosmetik di Dawn of Mankind

Saya suka bagaimana game ini membentuk cerita pendek buat tiap pekerjanya setiap kali mereka berpindah ke action tile lain. Secara abstrak, pilihan ini akan menjadi jalan hidup mereka. Ini adalah sentuhan yang pas dan memberikan saya kepuasan sendiri. Jika kalian kenal dengan saya, kalian pasti tahu kalau saya benar-benar menolerir segala kekurangan di dalam implementasi tematis suatu game.

The components were a-okay, but surely bigger tokens would do justice to the game. Especially for the resource markers, of course. In my humble point of view, it would be great to have tribesmen that could stand on their feet.

Dawn of Mankind datang dengan action tile yang bentuknya beragam. Saya berasumsi desain ini diambil untuk mempermudah pemain ketika memasukannya ke tiap slot yang ada. Tapi, perbedaan bentuk ini juga membuat sulit buat mengikuti jumlah action tile yang berbeda-beda. Pada akhirnya, semua bentuk yang digunakan hanya berbeda sedikit sekali, dan malah memberikan masalah ketika menyiapkan permainan. Kami harus melihat baik-baik bentuk apa yang masuk pas ke tiap ruang yang ada. Lebih baik menggunakan warna, angka, atau ikon yang lebih sederhana.

Opini saya setelah beberapa kali bermain

Permainannya berlangsung cukup cepat kalau semua pemain sudah mengerti alur mainnya. Kami mengakhiri satu sesi dalam 60 menit dengan jumlah pemain 3-4 orang. Tentu saja dengan lima pemain, waktunya jadi lebih panjang. Setelah semua pemain sudah tahu konsep dan gambaran besarnya, tiap putaran bakal kelar dengan cepat karena tiap aksi dari anggota suku lebih terbatas dan sudah ditentukan alurnya. Saya mencoba Dawn of Mankind buat dua orang, tapi interaksinya kurang berasa. Papan juga terlihat lebih kosong dan sulit sekali buat meeple buat didorong. Saya tidak tahu apakah saya salah mengerti aturannya, tapi tidak ada tambahan spesifik buat modus duel. Kalau bermain dengan jumlah maksimal lima orang, game-nya penuh dengan dorong mendorong dan para pemain bakal lebih senang karenanya.

Secara keseluruhan, Dawn of Mankind cocok buat kamu yang menginginkan worker placement ringan. Saya akui, game-nya pantas mendapatkan ruang di koleksi saya. Permainan ini sudah sepatutnya mendapatkan perhatian lebih dari lebih banyak pemain. Saya menyukai aspek strategi yang ada di sini, sebuah game yang bisa disandingkan dengan mainan semacam Potion Explosion, Dice Forge, Sentient, Thief's Market, CV, dan banyak lainnya.

REPLAY VALUE & CLOSING

Game ini memiliki dua sisi di action tile-nya. Walaupun tidak semuanya, tentu hal ini membawa set yang berbeda di dalam permainan, memberikan lebih banyak variasi ke dalamnya. Sayangnya, tiap action tile sudah ditentukan buat lokasi secara spesifik di atas papan. Hal ini mengurangi kemungkinan variasi yang lebih luas. Saya kira, ini diperlukan buat menjaga game agar tetap seimbang. Kombinasi yang berbeda dari progress card juga akan membawa kita ke pengambilan keputusan yang berbeda di tiap permainan. Kombinasi inilah yang menentukan strategi tiap pemain dan bagaimana permainan akan dimulai. Dari semua pemikiran yang saya miliki, saya bakal sangat senang buat menunggu expansion lain ke depannya, atau bahkan konten promo seperti action tile baru atau efek tiap suku yang membuat game lebih asimetris.

Sunting & alih Bahasa Indonesia: Stephan Celebesario Sonny

This website uses cookies. By continuing to use this site, you accept our use of cookies. 

id_IDID
%d blogger menyukai ini: